
Secara etimologis (bahasa), istiqamah berasal dari kata istaqaama yastaqiimu, yang berarti tegak lurus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekwen.
Mendengar kata “Istiqomah” yang dibayangkan mungkin tak sesulit implementasi didalamnya, dan mengapa Istiqomah itu menjadi penting dan sering digaris bawahi?
Sudah menjadi kodrat manusia untuk menjadi insan yang memiliki “mood” kadang baik, kadang buruk(baca Disini lebih jelas membahas ini). Permasalahannya, jika itu terjadi berarti kita bukan menjadi Insan yang Istiqomah Dong? Pastinya
.
Karena saya merasa tidak begitu menguasai topik yang cukup berat ini maka saya coba sempitkan arti Istiqomah disini pada permasalahan konsistensi dalam melakukan suatu pekerjaan yang mana dengan hal kecil2 ini mudah-mudahan bisa ngejar hingga arti Istiqomah sebenarnya. Akhir-akhir ini saya terus mencari tahu bagaimana cara efektif untuk setidaknya tetap menjaga “kewarasan” kita pada saat tidak waras. Namun alih-alih ketemu jawaban atas untuk mencari solusi malah nyari-nyari penyebab ketidakwarasan itu terjadi
(maklum, kita lebih suka nyari kambing hitam kan… dibanding bandot putih hehehe…). Dan kesimpulan saya adalah, terjadinya ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang terjadi terus menerus, sehingga mematahkan semangat kita untuk tetap konsisten. Atau kita inginkan perubahan yang signifikan, dalam artian tidak sabar dengan apa yang ada, kita berusaha melakukan terobosan dengan hal-hal baru yang mana sesuatu itu terlalu buram adanya.
Ada sebuah cerita menarik dari seseorang yang saya hormati, beliau cerita tentang sebuah pilihannya pindah ke Jakarta, dikala itu ada kawan-kawannya yang mana kapasitas organisasinya dibawah beliau namun tetap berusaha Istiqomah dengan apa yang iya capai di daerah. Dan 30 Tahun pun berlalu, Orang Daerah tersebut sudah menjadi Kepala Kanwil dari sebuah Instansi Pemerintahan. Dan orang yang pindah ke jakarta juga tidak lebih baik dari pada orang daerah. Artinya orang yang berjuang terus menerus dengan jalan yang mungkin sederhana, sampainya juga bisa sama pada akhirnya.
Kembali ke permasalahan kita(terutama saya) sebagai anak muda yang bisa dibilang sangat labil, emosi meledak-ledak, tapi itu ternyata bisa jadi kekuatan kita sebagai acuan untuk maju dan terjadinya Inovasi namun bisa menjadi bumerang pada saat kita In-konsisten melakukan suatu hal karena alasan bosan. Pada akhirnya, kita tidak pernah memenangi peperangan yang kita lewati karena satu hal kita tidak sabar untuk menikmati hasilnya.
Semoga kita selalu diberi kekuatan u/ menjadi Insan yang selalu Istiqomah baik dalam bidang Muamalah maupun Syar’iah. Aamiin..





[...] kodrat manusia untuk menjadi insan yang memiliki “mood” kadang baik, kadang buruk(baca Disini lebih jelas membahas ini). Permasalahannya, jika itu terjadi berarti kita bukan menjadi Insan yang Istiqomah Dong? Pastinya [...]
Sepertinya agan Aves memberikan PR ke saya untuk terlibat membahas ini :p
Saya coba tambahkan satu hal ke pembahasannya ya bro. Menurut saya ada komponen yang mesti di-istiqom-kan dan ada yang memang (underline)tidak bisa(/underline) di-istiqom-kan.
Perasaan, keimanan, merupakan komponen yang memang tidak mungkin ‘istiqomah’ dalam artian distabilkan terus-menerus. ‘Al-iimaanu yazdaadu wa yanqusu’, hadits, Iman itu bertambah dan berkurang (naik-turun).
Sedangkan yang bisa dan mesti di-istiqomah-kan adalah visi, tujuan. Keimanan mesti diistiqomahkan, tapi memang kodratnya naik-turun, tapi ketika turun jangan sampai keluar jalur, itu istiqomah. Visi/tujuan mesti diistiqomahkan, tapi ketika keyakinan akan tujuan itu goyah, jangan sampai pindah tujuan. Kalau karena mood jelek terus pindah kerja ato bubarin kantor, itu ya gak istiqomah.
daaaan buat para suami, ‘istiqomah’ diranjang itu pentinnnnnggggg wakakakakakakakakakaka
..yazdaadu wa yanqusu’
mungkin maksudnya Yazidu wa yanqus
Kalo menurut saya,memang tidak ada yang bertabrakan antara kadar keimanan dengan istiqomah Bung Toba.
Analogi sederhana saya tentang Istiqomah itu seperti Setir(fungsinya untuk lurus, dan belok) lalu Iman itu seperti pedal Gas(untuk ngebut dan pelan)
Pada Saat Gas sedang tinggi pun bisa saja setir berbelok yang mana pada saat itu terjadi,hanya orang yang berpengalaman yang benar2 bisa mengendalikan kendaraan tersebut.
Mungkin hal ini bisa seperti saya: pada saat gas lagi rendah tiba2 membanting stir untuk pindah kantor, karena pada saat gas rendah kita cenderung lebih gampang tergoda untuk melihat yang sesuatu disekeliling kita.